logo blog
Selamat Datang Di Blog ini
Semoga Informasi Disini
Bermanfaat Untuk Anda
Terimakasih.

MORFOLOGI dan KLASIFIKASI CACING PLANARIA

MORFOLOGI dan KLASIFIKASI CACING PLANARIA

MORFOLOGI dan KLASIFIKASI CACING PLANARIA
Cacing Planaria
Struktur Planaria tubuhnya pipih, memanjang dan lunak, berukuran kira-kira 15mm (5-25mm) panjang, bagian anterior (kepala) berbentuk segitiga tumpul, dan meruncing kearah belakang, dan berpigmen yang gelap. Planaria menghindari cahaya yang kuat dan pada siang hari.
 Planaria merupakan salah satu cacing pipih yang hidup bebas, kebanyakan hidup di dalam air tawar atau air laut, atau tempat yang lembab di daratan (Santoso,1994).

Klasifikasi Planaria menurut Barnes (1987) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Philum : Platyhelminthes
Kelas : Turbellaria
Ordo : Tricladida
Familia : Paludicola
Genus : Euplanaria
Spesies : Euplanaria sp
Planaria merupakan cacing pipih, yang hidup bebas di perairan yang jernih dengan ukuran tubuhnya yang kecil (Soemadji,1994/1995). Planaria tubuhnya selain pipih juga lonjong, dan lunak dengan panjang tubuh kira-kira antara 0,5-75mm. Bagian anterior (kepala) berbentuk segi tiga memiliki dua buah bintik mata Bintik mata Planaria hanya berfungsi untuk membedakan intensitas cahaya dan belum merupakan alat penglihatan yang dapat menghasilkan bayangan (Soemadji,1994).
Planaria tubuhnya pipih, lonjong dan lunak dengan panjang tubuh kira-kira antara 5-25 mm. Bagian anterior (kepala) berbentuk segitiga tumpul, berpigmen gelap kearah belakang, mempunyai 2 titik mata di mid dorsal. Titik mata hanya berfungsi untuk membedakan intensitas cahaya dan belum merupakan alat penglihat yang dapat menghasilkan bayangan (Soemadji, 1994/1995).

Lubang mulut berada di ventral tubuh agak kearah ekor, berhubungan dengan pharink (proboscis) berbentuk tubuler dengan dinding berotot, dapat ditarik dan dijulurkan untuk menangkap makanan. Di bagian kepala, yaitu bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan menyerupai telinga disebut aurikel. Tepat di bawah bagian kepala terdapat tubuh menyempit, menghubungkan bagian badan dan bagian kepala, disebut bagian leher. Di sepanjang tubuh bagian ventral diketemukan zona adesif. Zona adesif menghasilkan lendir liat yang berfungsi untuk melekatkan tubuh planaria ke permukaan benda yang ditempelinya. Di permukaan ventral tubuh planaria ditutupi oleh rambut-rambut getar halus, berfungsi dalam pergerakan (Jasin, 1984).

ANATOMI CACING PLANARIA

Reproduksi merupakan proses pembentukan individu baru.  Cacing Planaria yang sudah mencapai dewasa, mempunyai sistem reproduksi jantan dan betina, jadi bersifat monoecous (hermaprodit). Testis dan ovarium Planaria berkembang dari sel-sel formatif dari parenchym. Perkembangbiakan Planaria secara aseksual terjadi dengan pembelahan arah transversal. Seekor cacing Planaria dapat mengalami kontriksi (penyempitan) biasanya di belakang faring, kemudian membelah dan masing-masing potongan melengkapi bagian tubuhnya menjadi individu-individu baru. Reproduksi secara seksual, dua Planaria saling melekat pada sisi ventral-posterior tubuhnya dan terjadi kopulasi, penis masing-masing dimasukkan kedalam atrium genitalis. Sperma dari vesikula seminalis pada sistem reproduksi jantan masing-masing masuk ke seminal reseptacle cacing pasangannya, saling bertukaran produk sex antara dua individu yang berbeda di sebut cross fertilisasi, dan transfer langsung sperma dari jantan ke organ kelamin betina di sebut fertilisasi internal. Setelah perkawinan selesai, 2 cacing tersebut memisah, dan sperma mengadakan migrasi di dalam oviduck, untuk membuahi telur-telur. Beberapa zygot dan banyak sel-sel yolk kemudian bersatu didalam kapsul yang terpisah (di dalam kulit telur, di buat oleh dinding atrium kemudian keluar). Perkembangan secara langsung tidak ada stadium larva. Perkembangan planaria secara aseksual di alam, dilakukan selain bulan februari-maret. Kondisi lingkungan selain bulan tersebut, planaria sudah dewasa / maksimum dalam beregenerasi, sehingga planaria mengalami kontriksi atau penyempitan di belakang faring, terjadinya kontriksi karena sel-sel cuboid yang menutupi bagian luar permukaan tubuh, kemudian dengan adanya dorongan dari otot-otot sirkuler dan longitudinal akan berkontraksi dan menimbulkan perubahan bagian tubuh diantara epidermis dan tractus digestivus yang berguna untuk membantu distribusi makanan dan pengeluaran sisa-sisa makanan terhambat dan kemudian terjadi pembelahan (Radiopoetra,1990). Selain itu faktor abiotik yang minimum membantu perkembangan planaria secara aseksual (Isnaini,2003).

Sistem reproduksi pada kebanyakan cacing pipih sangat berkembang dan kompleks. Reproduksi aseksual dengan cara memotong tubuh di alami oleh sebagian besar anggota Turbellaria air tawar. Pada umumnya cacing pipih telurnya tidak mempunyai kuning telur, tetapi di lengkapi dengan “sel yolk khusus” yang tertutup oleh cangkang telur. Reproduksi pada Planaria dapat di lakukan dengan vegetatif secara membelah diri dan secara generatif dengan perkawinan. Planaria ini merupakan hewan hermaprodit (monoceus) tetapi tidak mampu melakukan pembuahan sendiri. Kedua alat kelamin ini berkembang dari sel-sel formatif pada parenkhim (JICA,2001).

Planaria merupakan hewan yang menghindari cahaya kuat, dan di siang hari beristirahat di dalam air berlindung pada suatu objek, berkelompok 6-20 ekor. Cacing ini jarang bergerak dengan cara merayap tetapi dengan cara meluncur. Cacing ini memakan crustacea kecil-kecil yang tertangkap oleh mucus yang di sekresikan. Salah satu keunikan dari cacing ini adalah cara reproduksi dimana cacing ini melakukan regenerasi dengan cara membelah diri. Jika mendapat cukup makan, badan Planaria akan memanjang, kemudian di dekat bagian posterior faring terjadi penyempitan dan meregang, sehingga akhirnya putus (Sutikno,1994).

Regenerasi Planaria Reganerasi adalah kemampuan untuk memproduksi sel, jaringan atau bagian tubuh yang rusak, hilang atau mati. Planaria menunjukan daya regenerasi yang kuat, bila cacing tersebut mengalami luka baik secara alami maupun secara buatan, bagian tubuh manapun yang mengalami kerusakan akan diganti dengan yang baru. Individu cacing yang di potong-potong akan menghasilkan cacing-cacing kecil yang utuh, Setiap potongan dapat tumbuh kembali (regenerasi) menjadi individu-individu baru yang lengkap bagian-bagiannya seperti induknya (Sutikno,1994 ).

Sepotong potongan membujur dari bagian samping akan beregenerasi dengan normal, jika potongan itu tetap lurus. Jika potongan itu membengkok atau melengkung, maka kepala akan tumbuh pada bagian samping dalam. Jika kepala Planaria dibelah akan dapat terbentuk seekor Planaria yang berkepala dua, kemudian jika pembelahan ini dilanjutkan ke posterior sampai terjadi dua buah belahan, maka tiap belahan akan dapat tumbuh menjadi seekor cacing yang lengkap bagian-bagiannya seperti induknya. Tahapan Regenerasi Planaria dimulai dengan adanya neoblast yang akan tampak terhimpun pada permukaan luka bagian sebelah bawah epithelium sehingga terbentuknya suatu blastema yang kemudian struktur sel mengalami diferensiasi dalam pertumbuhan blastema dan dibawah kondisi yang optimal mengalami regenerasi berpoliferasi 12 membentuk bagian-bagian yang hilang. Tahapan regenerasinya sebagai berikut dediferensiasi blastema-rediferensiasi (Radiopoetra,1990).

Suatu organisme dapat hidup, tumbuh dan berkembang biak serta menjaga kelangsungan hidupnya hanya dalam batas-batas kisaran toleransi, dengan kondisi faktor-faktor abiotik dan ketersediaan sumberdaya tertentu saja (Kramadibrata, 1996).

Kemampuan berkembangbiak menghasilkan individu baru yang hidup adalah merupakan ciri dasar dari semua tanaman dan hewan-hewan (Hadikastowo, 1982).

Planaria berkembangbiak dengan cara seksual dan aseksual. Planaria yang sudah dewasa mempunyai sistem reproduksi jantan dan betina, jadi bersifat monoecious (hermafrodit). Testis dan ovarium berkembang dari sel-sel formatif. Reproduksi seksual planaria dilakukan dengan cara dua planaria saling melekat pada sisi ventral-posterior tubuhnya dan terjadi kopulasi (cross fertilisasi), saling pertukaran produk seks antara dua planaria yang berbeda. Planaria melakukan reproduksi seksual setiap tahun di bulan Februari-Maret. Setelah masa reproduksi seksual, alat reproduksi mengalami degenerasi dan planaria kemudian mengalami masa reproduksi aseksual (Kastawi, dkk. 2001).

Fragmentasi merupakan proses reproduksi aseksual pada planaria, dengan membelah diri secara transversal, masing-masing belahan mengembangkan bagian-bagian yang hilang dan berkembang menjadi satu organisme utuh. Meskipun jumlah individu yang dihasilkan dengan reproduksi aseksual itu sangat besar, tetapi proses ini mempunyai batasan yang serius, yaitu bahwa tiap turunan identik dengan induknya (Barnes, dkk. 1999).

Kemampuan planaria mengembangkan bagian-bagian tubuh yang hilang, hingga terbentuk planaria baru yang lengkap pada reproduksi aseksual, menyebabkan planaria dikatakan mempunyai daya regenerasi yang tinggi. Apabila tubuhnya disayat (dipotong), planaria akan segera memperbaiki bagian tubuhnya yang dipotong dengan proses epimorfis yaitu perbaikan yang dilakukan dengan cara proliferasi jaringan baru (blastema), di atas jaringan lama sehingga akan terbentuk planaria baru yang sempurna. Fenomena ini menarik untuk diteliti, khususnya mengenai pertumbuhan dan perkembangan planaria setelah dilakukan regenerasi secara buatan, yaitu dengan memotong melintang planaria menjadi 2 dan 3 bagian. Pengamatan terhadap planaria yang dipotong ini dilakukan hingga tumbuh kuncup pada bagian yang hilang dan berkembang menjadi planaria baru yang lengkap.

 Meskipun hidup di air planaria tidak berenang, tetapi bergerak dengan cara meluncur dan merayap. Gerakan meluncur terjadi dengan bantuan silia yang ada pada bagian ventral tubuhnya dan zat lendir yang dihasilkan oleh kelenjar lendir dari bagian tepi tubuh. Zat lendir itu merupakan “jalur” yang akan dilalui. Gerakan silia yang menyentuh jalur lendir menyebabkan hewan bergerak. Selama berjalan meluncur, gelombang yang bersifat teratur tampak bergerak dari kepala ke arah belakang. Pada gerak merayap, tubuh planaria memanjang sebagai akibat dari kontraksi otot sirkular dan dorsoventral. Kemudian bagian depan tubuh mencengkeram pada substrat dengan mukosa atau alat perekat khusus (Kastawi dkk 2001)





Enter your email address Iwan,s Blog.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terimakasih anda telah berkunjung di blog yang sederhana ini, Harap meninggalkan komentar yang :
Berkata dengan sopan,
Tidak boleh merendahkan admin,
Kata tidak boleh berbau porno,
No Spam.

Copyright © 2013. Iwan,s Blog - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib | Edited by Iwan,s Blog